Sunday, May 27, 2012

Bintang dan Matahari - Multitalent


“Bintang, di mata kamu aku sebenernya kaya apa?” Hari bertanya, namun matanya menatap lurus ke arah langit malam. Angin bertiup pelan, lembut. Aku menyandarkan diri di bangku taman yang sedang kami duduki. Lampu yang ada di sisi kiri bangku kami berpendar lemah. “Buat aku Har, do’a orangtua kamu bener-bener terkabul. Kamu bener-bener layaknya matahari, Har. Pergerakannya semu, tapi kehadirannya sangat berarti dan sangat dibutuhkan.” Hari menoleh, menatapku. Aku balik menatapnya. “Cie banget kamu, diajarin siapa bisa bikin kata-kata kaya gitu?” Tanyanya lagi. “Diajarin kamu. Karena kamulah cinta.” Jawabku. Hari tersenyum salah tingkah. Aku hanya menyeringai lebar. “Dasar kamu. Beneran deh, lama-lama aku bisa ngebukuin kata-kata kamu, saking banyaknya.” Aku tersenyum, cerah.

“Nah kan aku udah jawab. Sekarang aku mau gantian nanya sama kamu. Aku di mata kamu kaya apa Har?” Tanyaku. Hari kembali menerawang, menatap jutaan bintang yang bertabur beraturan di atas sana. “Aku gabisa jawab seromantis kamu, Ta.” Ujarnya lemah. Aku hanya tersenyum. “Aku ga menuntut keromantisan, Hari. Aku cuman pengen tau aku di mata kamu kaya apa. Aku cuman mau jawaban kamu yang sejujur-jujurnya.” Ia mendengus. “Kamu mungkin lebih dari jutaan bintang ini, Ta. Kamu itu cengeng, ego, tapi multitalent. Orang dengan kepribadian paling kompleks yang pernah aku kenal.” Jawabnya. Aku tertawa kecil. “Multitalent? Aku bahkan gabisa masak, hari..” Balasku dingin. Kini ia terkekeh kecil.

“Aku rasanya lagi pengen ngebahas tentang multitalent yang tadi kamu bilang, Har. Yah, kata kamu, aku emang multitalent bidang apa?” Aku memecah keheningan, setelah sekian lama kami hanya saling diam dan menatap langit. Hari memainkan ujung syal birunya. “Hmm.. yah serbabisa aja gitu.. Nyanyi kan kamu bagus.. nulis apalagi.. gagambaran dikit juga lumayanlah.. Basket oke kok. Kamu baru masuk setengah taun tapi kelihatannya menonjol aja dari yang lain.. Apalagi ya? Apalagi wajah kamu keliatannya bijaksana sama dewasa banget..” “Iya tapi padahal aku cengen sama manja banget kan?” Potongku. Ia tertawa lagi. “Nah iya. Kamu tuh penuh kejutan. Coba aku mau tau. Aku pernah denger, kata orang kamu bisa nge dance, emang iya?” Tanyanya. “Yaa dikit dikit deh.” Jawabku seadanya. Hari bertepuk tangan.


“Kayanya enak banget ya punya kemampuan multitalent gitu. Kalo aku sih bukan multitalent Ta, tapi aku tuh serbaguna.” Ujarnya. Aku spontan menahan tawaku. “Serbaguna? Perasaan kaya barang aja..” “Ya beginilah. Coba, aku jadi tukang ketik, tukang ini tukang itulah.. yah banyak ngebantuin doang..” Ujarnya. Aku tersenyum dan menatapnya. “Itu artinya kamu hebat, Har. Kamu berguna buat orang lain. Coba kalo bisanya cuman nyuruh-nyuruh doang. Kan, gaada gunanya jadi orang. Inget Har, orang yang paling penting dan berharga itu adalah orang yang keberadaannya dibutuhkan dan berguna bagi orang lain.” Hari balas menatapku dan tersenyum.

“Tapi Har, kalo aku boleh bilang ya, sebenernya gaenak juga kalo punya kemampuan multitalent gini. Aku bukannya ga bersyukur Har, tapi aku males juga kalo lagi ada acara. Segalanya bertubrukan.” Ujarku sembari mendengus. “Gaenak gimananya?” tanyanya dengan nada sabar. “Yah coba aja bayangin. Di bulan-bulan antara April-Mei-Juni itu kan lagi banyak-banyaknya acara. Dari mulai porak atau porseni, lomba-lomba segala macem, UKK sampe pesta kenaikan kelas itu sendiri. Nah aku yang tadi kata kamu multitalent, emang banyak banget ikut acara dari mulai acara yang di dalem sekolah maupun luar sekolah. Banyak banget latihan, sampe banyak juga jadwal yang tubrukan.” Ujarku berapi-api. Udara yang dingin tidak dapat kurasakan. Hari hanya tersenyum mendengarkan.

“Selain itu, ada juga kegiatan wajib yang dilluar latihan. Contohnya, buat waktu tidur. Sebagai atlit, aku gaboleh kan tidur lebih dari jam sepuluh, tapi sebaliknya sebagai penulis aku butuh banyak inspirasi dan ketenangan yang biasanya aku dapetin pas malem hari. Kan ngga nyambung banget. Dan sebagai pelajar, aku harus bangun paginya buat nerusin sekolah.” Sambungku. Hari hanya manggut-manggut. “Kamu cuman harus bikin agenda aja, Bintang.” Tanggapnya. Aku mencibir. “Aku gasuka dijadwal-jadwal gitu. Rasanya kaya orang terkenal gitu.” Balasku. Ia tertawa geli. “Bintang, kalo suatu hari kamu terkenal kamu pasti harus mau dijadwal kaya gitu. Aku tau kamu tuh gasuka diatur, bisanya spontan mulu, tiba-tiba gini atau tiba-tiba gitu. Ya, hidup tanpa aturan itu memang enak, Bintang. Tapi percaya deh, hidup dengan aturan iitu lebih enak.” Aku menatap matanya. Jernih, ada sebuah danau kesabaran yang dalam di sana. Rumah keduaku.

“Iya juga sih. Tapi apa emang aku harus siapin dari sekarang? Bakal jadi keajaiban deh kalo ntar aku bisa seterkenal Paulo Coelho, J K Rowling, atau seenggaknya seterkenal Dee, Farida Susanty, Asma Nadia dan kawan kawannya..” Balasku. “Bintang, bahkan pada dasarnya kata Albert Einsten, hidup itu hanya dua. Satu, menganggap semuanya adalah keajaiban atau dua, bahkan tidak ada keajaiban sama sekali di dunia ini. Kamu harus pilih salah satunya.” Aku hanya menyeringai. Mata jernih itu menghangat, pandangannya penuh sayang.

“Jadi, aku harus mulai bikin sebuah agenda ya?” Tanyaku, konyol sekali. “Yeah exactly.” Jawab Hari. “Tapi bikinnya gimana Har? Aku engga jago nih..” Keluhku. “Kamu kan suka nulis, Ta.. Coba mulai aja deh dari ngerencanain besok mau ngapain aja, kalo perlu bubuhin aja jamnya. Gausah resmi, kaya semacam curhat aja, kaya.. misalkan: ‘Besok, aku sibuk. Pagi jam tujuh harus latihan dance di alun-alun, terus langsung basket jam sembilan di Sukapura, seselesainya istirahat dulu. Jam duabelas nge-date sama Hari ke Sabukara, sambil nulis atau blogging. Besok pasti seneng banget!’ nah kaya gitu aja kan bisa. Kamu kan udah biasa  nulis buku harian gitu.” Sarannya. “Iya tapi kamu ngedikteinnya kaya aku masih kelas empat SD aja. Rentet sama rinci banget..” balasku. Ia mencibir. “Daripada ga jelas, nanti kamu kan nanya lagi, aku ribet lagi ngejelasinnya..” Aku menyeringai.

Di atas sana, jutaan bintang masih bertaburan memancarkan sinarnya. Terlihat samar, light pollution sudah mulai merasuki kota kami. Udara masih terus bertiup dengan lembut. Yang aku rasakan di bangku ini bukanlah kedinginan, kesepian atau kecemasan. Aku merasa bersinar, penuh makna dan hangat. Karena Matahari sedang duduk di sampingku. Mungkin ia bukanlah Matahari yang setiap hari memenuhi kebutuhan sinar bumi, namun ia adalah Matahari yang setiap detik melengkapi hidupku. Setidaknya, hingga detik ini.

“Know what, Bintang? Aku selalu berpikir kalo aku ini hanya nol. Sebuah nol. Kosong, tanpa apapun tapi selalu ada. Setidaknya, di hatimu.” Aku tersenyum. Ternyata ia bisa bergerak, tidak hanya semu. Namun juga nyata.

No comments:

Post a Comment

COPYRIGHT © 2017 · SAFIRA NYS | THEME BY RUMAH ES