Saturday, May 26, 2012

Bintang dan Matahari - Buku

"Ta, betah amat sih baca buku. Berdiri, lagi. Ngga pegel diem aja disitu? Aku aja yang dari tadi nungguin kamu sambil mondar-mandir liat buku aja pegel.." Aku menoleh. Hari. "Eh Hari. Lagian siapa juga yang minta ditungguin kamu?" Tanyaku, sinis. Hari menghela nafas. "Yaudah, aku pulang duluan kalo gitu.." Ujarnya sembari membalikkan badan. Aku menarik minipacknya. "Ehhh bercanda dikit dong Har. Yaudah ayo kita jalan deh.." Ujarku akhirnya, menyerah. Hari tersenyum dan melangkah keluar toko buku. Aku membuntutinya dari belakang.

"Jadi kita sekarang mau kemana Har?" Tanyaku, mendapati kami sedari tadi hanya berjalan menyusuri ,all yang sedang penuh sesak oleh pengunjung. "Hmm.. mau ke PH? KFC? Foodcourt? Kamu lebih suka kemana?" Hari balik bertanya. Aku mendengus kesal. "Nawarin ke PH, gayanyaaa.. kayak yang dompetnya tebel aje.." Cibirku. "Bukannya dijawab.." Ujarnya sembari menoleh ke arahku. Aku menyeringai. "Kamu kaya baru kenal aku seminggu deh. Aku lebih suka ke foodcourt." Jawabku ringan. Hari menggeleng-gelengkan kepalaku. "Bukan itu maksud aku, Tata. Bisa aja kan kamu lagi pengen makan di yang lain, gitu.." Ujarnya. Aku hanya manggut-manggut.

"Kenapa tadi kamu ga beli aja bukunya?" Tanya Hari, setelah kami duduk bersampingan. "Lagi ga punya duit. Lah kamu juga kan tau." Jawabku dingin. "Emang berapaan sih itu bukunya?" Tanya Hari lagi. "Enampuluh empat ribu." Jawabku seadanya. Mata Hari membelalak. "Buset, mahal amat. Emang buku itu judulnya apa? Rame ga?" Tanyanya lagi. Aku mendengus. "Judulnya, 'Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh. Yang ngarangnya Dee. Rame bangetlah makanya aku betah bacanya juga, Mataharii.." Jawabku gemas. "Biasa aja dong Bintang,  aku kan cuman nanya." Balasnya. Aku mendengus. "Emang ceritanya tentang apa Ta?"


"Ceritanya? Jadi, di sini ada dua orang homo, yang janji buat bikin suatu karya. Nah, karya tersebut berdasarkan sebuah dongeng yang disukai sama.. Reuben atau Dimas, ya? Pokoknya salah satu dari mereka deh. Judul dongeng itu, Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh." Pesanan kami datang. Pelayan Jarrel's itu tersenyum pada kami dan kami tidak lupa mengucapkan terimakasih. "Emang cerita KPBJ itu gimana?" Tanyanya sembari mendekatkan nasi goreng hotplate di depannya. "Singkatnya aja deh. Nah, si Kesatria itu jatuh cinta sama si putri, nah dia mati-matian banget buat ngedapetin si putri. Susah banget soalnya putrinya ada di atas langit. Terus dia minta tolong sama bintang jatuh dengan syarat, si ksatria harus bilang 'stop' tepat di tempat putri itu berada, soalnya kalo engga, ntar kesatrianya mati. Kan, beresiko banget.Tapi si kesatrianya pengen banget, jadi dia sanggup. Nah, pas bilang 'stop' itu, tepat banget. Kesatria udah liat putri di depan mata.. tapi apa yang terjadi cobaa?" Tanyaku. Aku meraih hotplate yang berisi nasi goreng dan menyendokkannya ke mulutku. Hari hanya mengangkat bahu. "Itu rahasia, kalo dibeberin, kan ngga akan penasaran." Aku tersenyum penuh kemenangan.

"Bintang kayaknya suka banget deh ya sama buku. Sejak kapan kamu baca buku?"
"Baca buku? Ya dari jaman ingusan juga udah baca lah."
"Maksud aku tuh baca semacam novel gitu, Bintaaaang." Hari gemas.
"Hmm.. Oke. Aku juga gatau tepatnya kapan aku mulai suka baca, tapi aku inget.. Serial komik yang aku pertama tamat baca tuh.. Toe Shoes. Terus, novel pertama yang aku beli, KKPK. Judulnya, The Noeru. Novel yang pertama kali aku tamat baca.. Ayat-Ayat Cinta."


"Oh.. Yayayayaya. Sampe sekarang, kamu udah baca berapa novel?"
"Engga tau juga sih, aku tuh gasuka ngitung aku udah baca berapa banyak novel. Huehue." Aku menyeringai.
"Kalo novel paling rame, kata kamu.. novel apa?"
"Har, ko aku rasanya kaya lagi diwawancara gitu ya?"
"Iya gapapalah, cuman pengen tau aja."
Kami tertawa renyah.

"Kalo buat Bintang, buku yang paling rame itu masih dan hujan pun berhenti-nya Farida Susanty sama Perahu Kertas-nya Dee."



"Suka banget?"
"Iyalah suka banget. Emang sih novel dua itu ga terlalu berat, tapi emang.. gimana ya? Susah diungkapkan sama kata-kata deh. Udah paling keren dua novel itu menurut Bintang. Tapi kalo novel yang paling keren buat pendidikan sih beda lagi.."
"Apa tuh?"
"Totto-chan."


"Nah, ko bisa direkomendasiin bagus buat pendidikan, Ta?"
"Iya emang bagus banget deh beneran. Kalo ada sekolah kaya gitu, aku bakalan langsung daftar. Sayangnya enggak, Har. Nah, sekolah yang dipaparin di buku ini tuh sekolah.. dengan prinsip 'lakukan apa yang kamu suka'. Nah, kita belajar bebas semaunya tanpa ada tuntutan kurikulum atau sebagainya. Nah, kan kita bisa jadi lebih bebas ngembangin potensi yang kita punya, ngga tertuntut dengan berbagai mata pelajaran yang menuntut.."
"Tapi mata pelajaran dengan standar kurikulum itu penting loh Ta. Ya semuanya kan buat kelangsungan hidup kita juga. Coba bayangin kalo kamu hidup tanpa matematika, ga kenal matematika. Kamu kan bisa dibodohi, Ta.."
"Kan bisa belajar apa yang kita butuhin doang. Selebihnya, fokus dengan apa yang kita suka. Dengan kaya gitu kan bakat kita maksimal kekembangin, juga kebutuhan ilmu kita engge kurang."
"Aduh Ta, kayanya aku kalo debat sama kamu gaakan nyambung deh. Kamu harusnya debat sama Teo."
"Matahari, Teo jauh lebih dewasa sama lebih berpengetahuan sama aku. Aku juga gaakan nyambung kalo debat sama dia. Aku emang lebih seneng debat sama kamu, soalnya aku pasti menang. Lagian, Teo tuh kakak aku." Hari menjitak kepalaku pelan.

"Yaudah, mendingan lanjutin deh wawancara tentang bukunya."
"Ya silahkan kamu yang nanya Har, aku kan narasumber."
"Aku bingung mau nanya apalagi. Lah, kamu sendiri ga penasaran aku suka buku apa?"
"Penasaran sih tapi.. kayaknya kamu belum siap jawabnya." Hari menyeringai.
"Iya sih. Tapi nanti lanjutin yah ngobrol tentang bukunyaa.."

"Har, aku pengen ketawa deh."
"Emang kenapa?"
"Dunia ini konyol. Coba lihat nama kita. Aku, Bintang. Kamu, Matahari. Dan kakak aku, Meteor. Kita kayak yang ditakdirin emang buat bareng."
"Dan mantan kamu, Bulan."
"Oh, stop it, Har. You knew it."
Hari tertawa.

"Mungkin, suatu hari kisah kita cocok buat dijadiin buku, Bintang."
"Suatu hari Har, engga sekarang."
"Ya, ketika aku ngebongkar lagi ratusan surat dari kamu."
"Dan, ketika aku ngebongkar lagi puluhan graffiti dari kamu."
"Aku pengen tau, apakah suatu hari nanti, surat dan graffiti itu bakalan ada di satu tempat yang sama ga ya?"
"Cuman tuhan yang tau, Har."

No comments:

Post a Comment

COPYRIGHT © 2017 · SAFIRA NYS | THEME BY RUMAH ES