Senin, 03 Oktober 2016

Menjemput Pemahaman

I miss you dreamers ✨ I know I have not been updating as much, but there is always a reason behind every action. I've taken some personal time off to fulfill a personal quest. I've been creating content online since I was a teenager. Since then, it's been a nonstop adventure filled with ups and downs. I don't share much of my downs, because, well...we're all going through our own battles. Some of us find victories, others don't. Regardless, the scars that inflict us molds us to who we need to be. To grow and become stronger for what's to come. I'm in a chrysalis stage in my life. When I come back, I hope to be transformed to share what I've learned. Sending you all elevated light during these dark times. I hope you find your inner strength like Rhea here. πŸ”₯ p.s I've been working on a side project that I've been passionate about since I was a child. My webtoon #HeliosFemina free to read ✨ direct link in the bio πŸ‘†πŸΌ or visit [ don't forget to turn your volume if you see the music note 🎧 next to the chapter titles ]
Foto kiriman M I C H E L L E (@michellephan) pada

Setelah membaca post instagramnya Michelle Phan, aku tertegun. Bahkan Mish yang kelihatannya sangat magical, positif, dan hidupnya udah mulai stabil pun masih bisa dilanda kegalauan. Sampai dia memutuskan untuk berhenti bikin konten beauty di internet lagi. Entahlah karena apa, tapi yang jelas, itu Michelle Phan.

Dan semua orang juga punya masalahnya masing-masing. Kamu punya masalahmu, dan aku juga punya masalahku. Kalau kamu nanya kenapa aku dengan 'berani' dan lugas menguraikan masalahku di internet, kamu harus percaya. Ini adalah caraku memencet tombol 'start', buat memulai membuka diri dan berani memperbaikinya. Tapi kalau kamu emang anaknya yang dimarahin malah makin 'kuat' kayak Wirda Mansur, skip ajalah post ini. Udah, urang salut banget deh.

Aku juga ngerasa, kok rasanya kayak drama banget masalah begituan ditulis di internet. But dude, setelah aku tulis, ternyata pembacanya tembus 100 lebih. Nggak satu dua orang yang bilang merasakan hal yang sama, banyak. Dan yang terpenting, aku punya poin yang aku sampaikan; Mau sampai kapan masyarakat Indonesia mengabaikan kesehatan mental anak-anak bangsanya? Jangan bergantung sama pemerintah lah, yang punya kekuatan itu kamu sendiri loh.

Memang aku nggak bisa memaksakan 'kesadaran' kamu untuk mengerti ada yang salah di sini. Aku hanya bisa memancing, dan aku rasa itu udah lebih dari cukup. Karena setiap orang punya jalan dan caranya masing-masing buat membuka diri dan menyelesaikan masalah. Ini caraku, dengan berbagi sama kalian. Dengan curhat sama kakakku yang S2 Psikologi (which means info yang aku berikan gak asal-asalan woy). Dan dengan ngobrol bareng teman.

Beberapa hari lalu, aku dateng ke pengajian yang membahas tentang keagamaan. Jujur, aku bukan orang yang religius amat apalagi fanatik. Aku sangka sih orang-orang yang sangat religius itu memang udah dari sananya begitu. Rajin lah, istiqomah lah. Tapi ternyata enggak, buat jadi re-ligius itu mereka harus 'mendatangi' ilmu dan menjaganya. Dateng ke majelis lah, pengajian lah, dll lah. Mereka menjaga spiritual mereka tetap sehat, pakai usaha.

Jadi kalau kamu ingin mental kamu sehat, harus ada usaha juga. Nggak bisa dong kamu tiba-tiba ingin sembuh tapi kamu diem aja. Lah mau kurus aja dirimu dan badanmu yang menahan diri untuk gak makan enak kan, bukan makanan enaknya yang menjauhi kamu. Kesehatan dalam bentuk apapun harus dikejar, dia nggak akan datang sendiri. 

Tapi kamu juga harus sadar ada di mana kamu sekarang untuk menentukan gimana kamu memulai. Kalau misalnya kamu ingin meningkatkan sisi spiritualitas kamu, kamu harus sadar berapa banyak ibadah yang kamu lakukan selama ini. Hitung mana yang bolong, perbaiki yang ada dulu. Begitupun dengan diet, gak usah jauh-jauh memimpikan asian salad dengan dressing aneh-aneh, ya petiklah aja pisang dari pohon di belakang rumah. Buat mulai ngejaga kesehatan mental? Coba liat temen sekitarmu, solusinya mungkin ada di sana.

Dan akhirnya, aku menemukan jalanku keluar dari masalah ini. Ada temenku yang bilang;
'Nih ya, kalau urang nyebutin baik-baiknya ibu urang, maneh pasti iri. Kalau urang sebutin jelek-jeleknya juga maneh nggak akan mau da ketemu sama ibu urang. Fir, da manusia mah nggak akan puas-puas. Yang jelas, coba liat sekarang. Maneh udah kayak apa. Bisa nulis lah, menang lomba lah, dapet hadiah dari internet lah, ah kitu weh pokoknamah. Orangtua maneh, dengan perlakuan yang maneh ga suka itu udah membentuk maneh jadi seperti ini. Terus sekarang urang tanya, berapa orang yang pengen jadi kayak maneh? Banyak siah fir.'
Terus pas urang ceurik, si eta malah pergi dan mengurusi politiknya. Parah kan 😭

Kalau kamu menyimak baik-baik, kata-kata dari orang itu bakalan mempengaruhi kamu. Dan itu yang terjadi sama aku sekarang. Setiap ada hal yang aku nggak suka, aku jadi lebih santai dan bisa menerimanya. Bahkan aku bisa membantu biar keadaan rumah lebih baik, seenggaknya buat diriku sendiri dan adik-adikku. Rasanya tenang, tapi kadang tetap ada aja hari di mana masalah memburuk dan jadinya stress sendiri. Mungkin ini masih awal dari suatu proses yang panjang. Semoga aku bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi (dan kamu juga!) πŸ˜ƒ

Gimana dengan masalahmu, udah kelihatan arah jalan keluarnya?

Setiap hari, ada aja yang diributin di rumah. Dari mulai kaus kaki, bekal makan, sampai πŸ’© kucing πŸ˜‚. Kayaknya ga bisa banget gitu ya sehari gaada drama, ada aja yang bikin hati meringis men. Kadang nggak dibawa ke hati, kadang juga jadi sedih sendiri😞 Ingin rasanya keluarga ini adem tanpa omelan bunda, ceramahan ayah, tangisan si bungsu dan kembarannya yang jailin setiap waktu πŸ˜‚. Tapi kalau keluargaku gak ada ribut-ributnya, mungkin aku juga nggak akan ada hebat-hebatnya samasekali. Tanpa omelan bunda, mungkin aku gak akan bisa menemukan masalahku yang sebenarnya dan membantu orang lain yang menghadapi masalah yang sama lewat tulisanku di blog. 😝 (Kemudian aktivitas nulis ini berlanjut sampai.. Aku dapet kerja tanpa harus bikin CV! ✌) Kalau ayahku nggak overprotektif, mungkin aku nggak akan berani keliling kota sendirian dan bawa motor di kota orang πŸ˜‚. Karena aku anaknya makin dilarang, makin penasaran. Hahaha. Kalau si kembar ini nggak ribut dan bikin drama tiap hari, mungkin aku masih ga akan ngerti bahwa kepribadian orang itu sangat berbeda dan toleransi adalah hal yang terindah. 🎭 Meskipun kadang keluarga itu nyebelin karena suka bikin ribut-ribut gapenting (ya gimana masih punya anak kecil dan anak sulung mereka ini susah bgt diatur woy😌), merekalah yang membentuk aku jadi diriku yang sekarang. Aku pun sadar pribadiku masih jauh dari baik, tapi aku pengen terus belajar buat jadi lebih baik dan meminimalisir si ribut-ribut gapenting itu πŸ˜‚πŸ˜†. Biar apa? Biar Q time sama keluarga jadi lebih banyak, dan aku bisa mengucapkan terimakasih. #IniKeluargaGue, mana keluarga kamu? @hilwakhoir @alwinmreza @novrinf @sasarahar @lisna_dwi @mataharimallcom

Foto kiriman Safira Nisa (@safiranys) pada

5 komentar:

  1. Suka banget sama tulisan lu yg ini. Emosional, tapi juga inspiratif. Ya memang, segala sesuatu itu butuh proses. Apalagi hubungan antar manusia, bagaikan segumpalan benang kusut yg gak tahu harus mulai diurai dari mana. Tapi selama lu tidak menyerah, dan terus berusaha, suatu hari bisa mengenang semua masa-masa pahit ini dengan senyuman. You met someone for a reason, either he's a blesing, or a lesson. Maafkan diri lu sendiri, baru lu bisa memaafkan orang lain.

    Gua tau, karena kalo hari ini gua mengingat semua permasalahan dan sakit hati yg gua alami waktu gua berumur 19 tahun dulu, gua malah jadi senyum-senyum sendiri hehe. Semangat Nis. Whenever you need me, you know that I will be one text away =)

    1. ((masa-masa pahit))
      Ah, nggak pahit kok cuma masam. Lol.
      Yes, kalau kita aja nggak bisa nerima diri sendiri, gimana orang lain mau nerima diri kita?

      Oki doki!

  2. Well, semakin kesini aku semakin sukaaaaaaa sama tulisanmu Fir :)

  3. keren mbak, suka sama kata-katanya yang ini "Kesehatan dalam bentuk apapun harus dikejar, dia nggak akan datang sendiri"



Aku jarang balas komentar di sini, kalau mau jawaban yang fast response boleh DM ke Instagramku (atau twitter) di @safiranys ya!