Wednesday, August 31, 2016

Emosi, Tekanan, dan Fragtal

Aku nulis ini semata-mata buat berbagi pengalaman, samasekali nggak ada niat buat memojokan pihak lain meskipun aku menuliskan pihak-pihak itu di sini.

Beberapa hari lalu karena nonton drama W, aku dapat pemahaman kenapa orang senang banget waktu jatuh cinta. Waktu jatuh cinta, seseorang akan hidup di momen tersebut. Dia nggak akan memikirkan masa lalu dan nggak akan merisaukan masa depan. Itu juga alasan kenapa kalau kamu sedang bersama orang yang kamu cinta, rasanya kamu ingin waktu berhenti di situ saja. Nggak usah maju lagi.

Kamu tahu, manusia akan bekerja secara maksimal kalau dia hidup di momen tersebut. Dan kamu akan merasakan benar-benar hidup dalam momen kalau kamu lagi jatuh cinta.

Ketika kamu jatuh cinta, kamu jadi punya kekuatan. Kamu merasa dunia milikmu, kamu berani mengambil resiko terburuk meski kamu sendiri tak tahu apakah kamu mampu atau tidak. Yang jelas kamu berani karena tak ada keraguan untuk masa depan, hatimu terlalu penuh untuk memikirkan hal lain.


Nggak ada hal yang lebih kuat selain emosi yang bisa mengendalikan perbuatan seseorang. Nyatanya waktu patah hati, kamu merasa dunia seakan hampa. Meski kamu bisa tetap bekerja dan kamu nge-'yaudah lupain aja'-in perasaanmu, itu cuma bisa bertahan sementara. Kamu bisa aja memanipulasi respon fisik kamu terhadap suatu masalah, tapi kamu nggak bisa membohongi respon emosi kamu. Ketika kamu membohongi respon fiskmu dan menolak respon emosi kamu, kamu mulai memendam emosi.

Aku tahu sekali rasanya memendam emosi. Seseorang pernah bilang kalau aku terbiasa sama emosi kecewa dan rasa sakit. Well dude, 16 tahun aku hidup menghadapi tekanan emosi dari orangtua setiap hari dan nggak (bisa) lari.

Aku udah sadar kalau ini adalah sebuah 'masalah', tapi aku belum tau seserius apa masalah tersebut sampai aku baca jurnal ini (kalau bener-bener dibaca, ya aku mengalami semuanya). Dulu aku pikir, orangtua yang terlalu ngatur, mengekang, nggak menghargai perasaan anak sebagai pribadi yang terpisah dari dirinya adalah hal yang wajar. Toh orangtua dari teman-temanku pun gitu. Tapi percayalah, itu hal yang sangat nggak wajar. Artinya, bukan orangtuaku saja yang nggak wajar, orangtua di lingkungan sekitarku juga.

Masih segar di ingatanku waktu aku bilang aku ingin jadi penari. Mereka malah menertawakan dan bilang: "Kamu tahu seperti apa baju penari? Ga bagus! Ga boleh!" saat itu aku masih kelas 3 SD. Hatiku sakit, bahkan mereka tidak bertanya kenapa aku ingin jadi penari. Mereka mengira aku bercanda dan mengabaikan perasaanku, karena aku 'masih anak-anak'


Waktu aku memutuskan buat berteman dan bersosialisasi, mereka bukannya senang dan mengarahkan. Begitu melihat temanku, mereka malah langsung marah karena menurut mereka aku berteman dengan orang 'yang nggak baik'. Padahal mereka sendiri tak mengerti kenapa aku berteman dengan temanku.Mereka bahkan nggak tahu seperti apa sikapku sama temen-temenku.

Lalu suatu saat aku ingin jadi penyanyi. Impianku sering berganti-ganti, sesering mereka melarangku dan meremehkanku. Lagi-lagi, mereka hanya bilang: 'Memangnya kamu pernah nyanyi? Memangnya bisa?'

Mereka nggak cuma mengaturku tanpa mempertimbangkan perasaanku. Mereka selalu bertindak semaunya. Waktu aku masih 4 tahun, aku masih ingat mereka bertengkar di depanku sampai ada yang hampir pergi. Namanya juga masih anak-anak, aku nggak ngerti ada apa waktu itu. Tapi kalau  kuingat kejadiannya, rasanya berat di hati.


Nggak cuma itu, semua yang aku lakukan selalu salah di mata mereka. Padahal sejak kecil aku juga ingin mencoba mencuci baju, memasak, menyetrika. Kamu tahu, aku anaknya suka iseng dan penuh rasa penasaran. Tapi mereka nggak peduli, malah selalu bilang: "Jangan, bahaya."

Aku yang tumbuh jadi remaja dan harusnya membantu pekerjaan rumah, malah jadi malas untuk membantu. Bukan apa-apa, mereka malah mengomentari pekerjaanku yang nggak baleg di mata mereka. Nggak pernah ada kata sayang atau pujian meskipun aku mencoba sebisaku. Aku harus mencapai ekspetasi mereka, kalau nggak ya udah bhay.

Aku tumbuh jadi anak yang sakit-sakitan. Saat SD, mungkin aku bisa tiga bulan sekali mampir ke dokter anak. Di SMP, selalu ada satu hari dalam satu minggu aku tak sanggup sekolah. Menuju SMA, aku sering merasa kelelahan padahal nggak banyak kegiatan yang kulakukan.

Sampai akhirnya aku buntu, aku membutuskan buat cari solusi ke kak Alwin (kakak sepupuku yang lagi S2 Psikologi di UGM). Katanya,
Emosi itu adalah yang paling menyerap energi kita. Bukan aktivitas, bukan pikiran. Kalau beban emosimu berat, kamu akan sering merasa lelah dan jadi sakit-sakitan. Padahal yang kamu kerjakan bukan hal yang besar.
Ah. Semuanya jadi masuk akal sekarang. Aku kira, aku gampang sakit karena sistem imun yang nggak kuat. Tapi nyatanya? Imun tubuh kalah sama emosi.

(Kamu tahu, saat aku paling bahagia, aku jadi nggak gampang sakit. Malah ibuku sendiri bilang, wajahku sangat bersinar dan rambutku jadi berkilauan. Kalau dipikir-pikir, cinta hebat juga, ya? 😊)

Makin lama, aku makin yakin kalau perlakuan orangtuaku ini 'nggak wajar'. Karena aku makin banyak ngeliat orangtua yang selow abis dan menghargai anaknya sebagai pribadi yang terpisah dari dirinya. Mereka membiarkan anaknya berpendapat dan menghargai setiap perasaan dan pendapat anak mereka. 

Sebutlah ayahnya Evita Nuh yang selalu minta pendapat Evita tentang sebuah masalah dari umurnya 5 tahun. Contoh, Evita dan ayahnya nonton film barengan. Di akhir film ayahnya selalu berdiskusi dan meminta pendapat Evita tentang film tersebut, nggak ada anggapan 'Ah dia masih kecil, tahu apa tentang masalah di film ini'.  

Ayah Evita menghargai Evita sebagai pribadi yang punya pandangan dan keinginan sendiri. Berkat dukungan dan sikap ayahnya itu, kamu tahu sekarang Evita ada di mana. Di usianya yang masih 17, Evita udah masuk media lokal, internasional dari online sampai offline sebagai fashion blogger dan bussinesswoman. Bahkan sebelum memasuki angka belasan tahun, Evita sudah merasa nyaman dengan dirinya sendiri dan menemukan kepingan jati dirinya. 

(Tentang Evita dan ayahnya, dia sering cerita di Ask.fm. Aku pernah baca tentang hal satu ini sekitar tahun lalu, atau awal tahun ini)

Akhirnya aku jadi sampai ke sebuah kesimpulan:
Kalau dari kecil, orangtua mendidik anak tanpa mempertimbangkan dan menghargai perasaan anaknya, anak tersebut akan sulit untuk mengerti dan menghargai perasaan oranglain. Anak itu jadi sulit belajar untuk dewasa. Hingga sulit menemukan kepingan jati dirinya.
Asal tahu saja, kamu nggak akan tahu sesuatu itu 'kesalahan' kalau kamu nggak tahu yang benar.

Semakin aku banyak ngeliat post tentang quotes positif, cerita orangtua yang penuh kasih sayang, toleransi, dan pemahaman sama anaknya, aku makin bingung. Aku nggak bisa relate dengan post-post tersebut. Aku ingin jadi pribadi yang positif dan produktif, tapi aku nggak tau caranya. Setelah aku coba buat beli sebuah buku self-motivation, ada satu quotes yang bikin aku merenung dan merasa makin hilang,


Karena sejak awal aku nggak pernah merasa memiliki diriku seutuhnya.

Aku hilang arah, aku nggak tahu harus ngapain. Akhirnya aku ngerasa aku nggak bisa tumbuh dan menjadi pribadi yang utuh dan positif karena dari dulu, akarku di keluarga udah duluan rusak. Aku nggak tau harus berpegang ke mana. (Kamu tahu, orangtuaku religius banget, tapi ya sikapnya aku nggak suka. Makanya aku secara intuitif menghindari jadi religius karena nggak mau akhirnya bersikap seperti mereka)

Kak Alwin: "Kamu sekarang maunya gimana?"

Aku: "Nggak ada hal lain yang kupikirkan sekarang selain kerjaan. Aku nggak tahu harus gimana."

Kak Alwin: "Oke, karena sekarang kamu udah tau dan sadar, kamu nggak boleh menolak semua itu. Kamu jangan setiap kali ada masalah, kamu bilang 'Yaudahlah' padahal emosi kamu belum 'udah' dan 'Gapapa kok' padahal itu ada apa-apanya."

"Emosi tuh macem begini loh. Ada danau yang bersiiih banget. Tapi orang-orang di sekitarnya nggak peduli sama kebersihan danau itu. Kamu pengen danau itu bersih, tapi kamu udah terlanjur membiarkan orang-orang membuang sampah ke danau itu sedikit-sedikit, setiap hari. Kayak: 'Ah biarinlah cuma sampah satu. Nanti juga hilang ditelan arus.' Tapi kenyataannya, danau mah nggak ngalir, cuy. Malah, sampah itu mengendap dan menumpuk. Lama-lama, nggak ada  lagi ruang untuk sampah di danau sampai sampah itu meluber kemana-mana. Seperti itu keadaan kamu sekarang."

"Kalau kamu ingin keadaan jadi lebih baik, kamu selalu bisa mengarahkan dirimu sendiri jadi lebih penurut dan sabar. Mungkin itu berguna, tapi nggak akan lama. Kayak danau yang sudah penuh sampah, danau itu nggak mungkin bersih sekalipun kamu masukan air sepuluh galon. Kamu nggak bisa maksain danau itu bersih kalau sampahnya nggak dibuang. Makanya, kamu harus membersihkan danau dari sampah dulu, baru kamu bisa mengisinya dengan air yang bersih. Masalahnya, sampah itu udah terlanjur dipendam belasan tahun. Ini pasti jadi proses yang berat dan sulit."

"Tapi bukan berarti kamu nggak boleh ngisi danau itu pake air bersih. Ya sambil saja, sambil kamu membersihkan, sambil kamu isi danau itu dengan air yang lebih bening. Sedikit-sedikit we, santai."

Kalau sampai sini kamu berpikir bahwa masalahku 'biasa saja' dan kamu pun mengalami (+merasakan) hal yang sama, percayalah ini nggak 'biasa saja'. Nggak ada yang namanya kamu bisa membiarkan keadaan membaik dengan sendirinya tanpa ngebersiin si sampah di danau. Kecuali kalau kamu memang mampu berdamai dan membersihkan emosimu sendiri secara holistik. Ya itu juga nggak 'biasa', itu luar biasa kerenbangetabissejagatraya. Bertarung dengan diri sendiri itu sulit banget, nggak banyak orang yang bisa melakukannya. Mungkin kamu salah satu kesatria terkuat yang ada di bumi.


"Apa efeknya kalau aku nggak ngebersihin si sampah-sampah di danau ini?"

"Ya buat seterusnya, kamu akan selalu merasa cepat lelah. Kondisi fisikmu buruk. Yang paling fatal kamu akan melanjutkan fragtal ini ke anakmu kalau nanti kamu berkeluarga"

"Fragtal itu maksudnya.. Orang sih suka bilang kalau orangtua cerai, anaknya  juga punya kemungkinan cerai ya kalau sudah berkeluarga? Orang lain menganggap itu 'keturunan'. Ya ga sih?"

"Iya, orang lain berpikir itu 'keturunan'. Padahal yang terjadi adalah sang anak dari orangtua yang bermasalah--masalah apapun itu cerai kek, narsissistic kek, ga perhatian kek--itu punya unfinished bussiness. Tapi kebanyakan mereka nggak sadar, jadi fragtal itu terus berlanjut sampai keturunan berikutnya dan berikutnya lagi."

"Mungkin mereka cuma sadar ada sesuatu yang tak beres, dan mereka hanya membiarkan itu terjadi. Bahkan mereka nggak mau mengakui, apalagi memperbaiki. Gitu gak sih?"

"Ya itu kebanyakan kasusnya. Makanya kalau mau, kamu harus memutus fragtal itu. Kamu harus membersihkan sampah-sampah yang ada di danau itu. Nggak peduli berapa banyak, kalau mau tuntas ya sampahnya harus bersih aja."

Aku diem.

"Kamu juga harus tau, sekarang kamu butuh orang lain untuk jadi pembimbing kamu selama proses ini. Orang yang akan melihat masalah dari sisi yang berbeda, membuka kotak resiko yang tak terlihat di matamu. Kamu butuh orang lain untuk membantu kamu keluar dari masalah ini, bukan yang malah membuatmu nyaman saat keadaan mencekam. Lagipula belum tentu kamu kuat buat menyeret dan membuang sampah yang udah mengendap itu sendirian."

"Sebenernya aku punya banyak teman, memang. Tapi selama ini nggak ada yang bener-bener bisa aku andalkan dan cocok banget sama aku. Ada yang lemah lembut dan baik hati, tapi kamu tau kan aku anaknya pecicilan. Jadi awkward gitu loh kalau ngomong. Ada yang punya semangat besar kayak aku, tapi dia nggak cukup perhatian. Sampai akhirnya aku ketemu seseorang yang punya semangat dan hati yang sama besarnya. Rasanya nyaman banget,  kadang aku memimpikannya jadi ibuku."

Foto kiriman Safira Nisa (@safiranys) pada


Jadilah aku lebih gampang nurut kalau dipapatahan sama teh Gina. Meskipun kadang tetep keras kepala, ahaha

(Ya, bapaknya cuma peran pembantu. Nggak deng, aku juga sayang kak Yopi kok. Aku bahkan bercanda bilang aku ingin diadopsi sama mereka, padahal sebenarnya nggak sih... Nggak bercanda. Hahaha :p)

Kalau sampai sini kamu menganggap masalahku biasa aja dan masalah ini memang ada di hampir setiap keluarga, percayalah. Negara ini nggak akan pernah bangkit kalau kamu menganggap kesehatan mental itu nggak penting.

Tadi aku udah jelaskan kalau emosi adalah yang mengatur kekuatan manusia. Bayangin aja kalau kasus kayak gini terus berlanjut dan dianggap 'biasa aja'. Berapa banyak anak yang tumbuh tanpa mau menghargai oranglain (kalau orangtuanya narsissistic), berapa banyak anak yang nggak mau berjuang lebih keras akan keinginannya (kalau orangtuanya terus merendahkannya), berapa banyak orang yang hanya peduli pada kekayaan dan jabatan (kalau orangtuanya tak peduli dengan keadaan mental anaknya, hanya memikirkan materi). Dan masalah itu bakalan terus berlanjut ke generasi seterusnya, seterusnya, dan seterusnya. Kalau kamu nggak berani buat memutuskan fragtal itu seutuhnya.

Tolong, jangan remehkan kesehatan mental. Jangan pernah berpikir 'Ah seniman A juga dulu pernah ditentang orangtua waktu pengen berkarir jadi seniman. Tapi nyatanya sekarang dia sukses meskipun di bawah tekanan, aku juga pasti bisa.' jangan. Okelah kalau buat sekedar motivasi, tapi kamu nggak akan pernah menempuh jalan yang sama dengan seniman A. Apa yang mudah buat dia belum tentu mudah juga buat kamu.

Keadaanmu, latarbelakangmu, masalahmu itu nggak bisa disamain sama oranglain. Perbandingannya nggak apple to apple.  Di dunia psikologi, hal sekecil kedipan mata pun berpengaruh pada kondisimu.

Aku selalu kagum sama orang yang bisa menguasai keadaan mentalnya. Menurutku, orang terkuat di dunia itu bukan atlet olimpiade. Tapi orang yang bisa benar-benar mengendalikan dirinya seutuhnya. Tanpa penolakan, tanpa kepura-puraan.

Foto kiriman Safira Nisa (@safiranys) pada

Tapi aku belum bisa jadi orang yang kayak gitu. Masalah memutus fragtal, emosi, dan tekanan ini terlalu berat buat aku tanggung sendiri, jadi aku pikir lebih baik konsultasi sama yang ahli di bidangnya.

Kalau kamu, gimana? Masih kuat menanggung beban emosi sendiri, atau malah udah bisa menjernihkan danau-mu sendirian dan mampu hidup dengan positif? Jangan dipendem-pendem dan dibiarin terus ah, yuk kita perbaiki generasi selanjutnya dengan memperhatikan kesehatan mental kita sendiri dulu.

"Kamu sini gera ke puskesmas Prambanan aja geura. Beda tau komunikasi sama orang jauh di chat/telfon sama ngomong langsung. Beda banget."

"Ya emang beda. Aa we yang kapan pulang. Pulsa urang beak ieu.."

Tut.. Tut... Tut..

10 comments:

  1. Fir, you r the 1997 version me. Hehe. I know how it feels:') efek dari semua Itu, aku jadi pribadi yg sangat cuek. Meskipun aku gampang bersosialisai, aku ngerasa sulit banget buat bener bener masuk ke 'sosial' Itu sendiri. Aku juga baru tau loh fir kesamaan kita banyak banget. Banget wkwk. Iykwim. Fighting~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Atuhlah ngan beda sataun hahaha. Fighting juga ya Dhel. Pokoknya jangan dipendem, dibiarin, apalagi dianggap remeh. Haram tu. Demi masa depan lebih baek~
      Karena nyatanya orang dewasa yang bilangnya udah let go pun tapi kalau nggak diatasi menyeluruh mah tetep aja si 'resiko jangka panjang'-nya kena.

      Delete
  2. Well,
    Sikap orang tua yang "memangnya kamu bisa?" Itu sungguh "menghancurkan hati seorang anak" dan anak itu akan berkembang menjadi pribadi yang tidak yakin atas dirinya sendiri dan tidak yakin bahwa dia bisa.

    It happened to me and I realized it's bad for every child. Seharusnya, bukan dengan cara "emang kamu bisa?" Tapi lebih baik beri semangat dukungan dan kalau si anak tidak mampu, jelaskan dan bantu dia menemukan hal lainnya yang kemudian besar anak mampu melakukannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener! Kalau banyak orang yang sadar akan hal ini, aku percaya Indonesia bakalan lebih baik lagi ke depannya :)

      Delete
  3. duh butuh curhat juga nih hehe. kalau menurut safira gimana nih, kalau aku bisa mengendalikan emosi untuk nggak mikirin omongan orang lain tapi justru langsung diomongin di depan orangnya kalau aku nggak suka sama omongan orang itu tapi caranya agak frontal. gimana menurut kamu? apakah sebenarnya aku ini bisa ngatur emosi dengan nggak terus2an mikirin omongan orang atau justru aku ini nggak bisa ngatur emosi dengan nyeplosin orang langsung di depannya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurutku, kamu bagus banget nggak memendam emosi sendirian. Tinggal cara penyampaiannya aja. Karena kalau nggak baik cara penyampaiannya, nanti kalian malah tambah salah paham. Jadi ga enak :D

      Delete
  4. Gua umur udah hampir kepala tiga, tapi gua masih belom berhasil membersihkan "danau" gua tuh. Dan sialnya, tiap kali di saat gua lagi semangat-semangatnya ngebersihin dan mengisinya dengan bergalon-galon energi positif, selalu saja ada kejadian tak terduga, bagaikan dua kapal tanker berisi asam sulat yg mendadak jatuh dari langit dan tenggelam di sana. Danau gua kembali kotor lagi, dan gua kembali berjuang membersihkannya lagi. Begitu seterusnya, selama 29 tahun ini.

    Jadi ya memang yg namanya proses itu belajar akan terus berlangsung, selama lu hidup. Itu danau mungkin suatu hari bakal bisa bersih, atau mungkin juga ga bakal pernah bersih, tapi selama lu hidup dan berusaha, itu lebih baik dibandingkan lu biarkan sampah di sana menumpuk, membusuk, dan membiarkan energi negatifnya menggerogoti lu.

    We all have our own struggle, every one of us. Everybody wants happiness, nobody wants pain, but you can't have a rainbow without a little rain.

    ReplyDelete
  5. Aku ketinggalan banyak update-anmu Fir, baru baca ini .__. Err, kalo aku baca ini kok ngerasa kita punya latar belakang keluarga yang sama, ya? Duh, jangan-jangan emang tipikal orang tua 'generasi X kayak gitu yah. :"

    Btw harusnya kamu re-share postingan ini kapan hari, bertepatan ama World Mental Health Day~~

    ReplyDelete
  6. Cuma penasaran gimana tanggapan ortumu setelah semua tentang mereka kamu ungkapkan di sini? Salam kenal fir

    ReplyDelete

Aku jarang balas komentar di sini, kalau mau jawaban yang fast response boleh DM ke Instagramku (atau twitter) di @safiranys ya!

COPYRIGHT © 2017 · SAFIRA NYS | THEME BY RUMAH ES