Monday, May 2, 2016

Hidup di Internet #3 - Peluang dan Niat

Baca:
Hidup di Internet #1 - Jangan Pasif
Hidup di Internet #2 - Pilihan

Di tulisan sebelum-sebelumnya, aku udah bilang kalau dunia Internet, nggak jauh beda sama dunia nyata. Kita masih berinteraksi dengan orang, bisa berteman, bisa berkembang. Di seri #1, aku udah bahas kalau kita bakalan dapat banyak manfaat kalau berbagi. Waktu nulis itu, aku belum punya kata-kata yang tepat buat menggambarkan seindah apa berbagi itu.

Tapi, beberapa waktu lalu aku sempet baca salah satu post mbak kece nan hitz abis +pungky prayitno di theurbanmama.com: Melawan Post Natal Depression:

Mama saya pernah bilang, "Berbagi itu seperti memberi kebahagiaan pada kaca. Kamu yang akan dapat paling banyak."

Dan.. aku setuju banget. Persis kayak apa yang aku ingin bilang.

Kali ini, aku mau berbagi sepatah dua patah kata tentang mendapatkan peluang yang ada di Internet, dan sebenernya udah sebesar apa niatmu mengenal dunia Internet ini?


Berusaha, bukan pasrah.

Sering, aku bergumam dalam hati. Kenapa ya, si A bisa dapet tawaran jadi ambassador brand? Perasaan update instagram aja jarang. Kenapa si B di-endorse? Engagement-nya padahal kurang. Ya, emang itu iri hati dan nggak baik buat diri sendiri. Meskipun inginnya bersaing secara sehat, tapi tetep. Kadang-kadang, rasa iri karena nggak dapet keuntungan yang sama dibanding influencer lain tetep muncul. Tinggal gimana kita ngatasinnya aja. 

Taken from blognya kak Bule

Kenapa mereka bisa dapet peluang lebih di Internet? Be it kerjasama dari brand (yang pasti banyak menguntungkan buat kedua belah pihak) apapun bentuknya; bikin ilustrasi, foto, spokeperson, video.. Atau di-feature di media yang terkenal.. Kenapa mereka bisa dan aku nggak?

Ada beberapa poin yang harus diingat:
  • Usaha mereka mungkin lebih besar daripada kita. Di balik foto instagramnya yang kece, mungkin dia harus sewa fotografer, editor, bahkan ngemodal buat properti. Di balik twit-nya yang menarik, bisa jadi dia merenung di kamar mandi selama dua jam. Di balik post blog-nya yang banyak, rapi dan fotonya mendukung, ada kantung mata yang nggak ilang-ilang. Di balik feed-nya yang curated, dia pengen mengekspos kehidupan pribadinya juga. So what? Jangan mengeluh dan bergumam kenapa. Tapi jadikan motivasi biar kita punya kualitas, bisa berusaha sebaik mereka.
  • Mereka nggak gengsi dan takut. Buat dikenal brand dan diajak kerjasama, pasti engagement post kita diliat dulu. Mau nggak mau, kita harus (minimal) punya banyak followers dulu sebelum diajak kerjasama. Mereka yang followersnya K-K an sampai M-M an mungkin nggak gengsi kalau sebelum terkenal, harus nge-post satu foto pake hashtag yang berjibun. Memperkenalkan diri ke dunia yang luas ini. Mereka juga nggak takut buat kirim email ke berbagai brand, menawarkan diri untuk membantu promosi. Penolakan berkali-kali udah jadi hal yang lumrah. Tapi ketika diterima.. that's how it happened. 
  • Daripada menunggu takdir, mereka menjemputnya. Banyak orang yang bilang kalau jodoh ada di tangan Tuhan. Ya, memang ada. Rezeki juga ada, kok. Tapi gimana cara Tuhan ngasihinnya sama kita, kalau kita nggak berusaha buat bisa menangkap apa yang ada di tangan Tuhan itu? Daripada cuma terus meminta, kenapa kita nggak bergerak buat mendekati apa yang ada di tangan Tuhan? Bukan berarti hubungan religius gak penting, tapi ya.. Gimana mau dikasih kenikmatan, merasakan kesulitan aja nggak. Mereka yang udah dapat nikmat itu, udah bergerak lebih dulu buat menjemput nasib baiknya, setelah melewati berbagai rintangan.
Instead of keep thinking, kenapa a begini b begitu tapi aku masih di belakang.. Coba turuti barang selangkah, apa yang mereka lakukan. 

Peluang ini nggak cuma berlaku di dunia blogging, social media influencer atau youtuber content creator aja loh, ya. Yang pada suka jualan di online shop juga kadang suka bingung kan, kenapa lapak sebelah lebih laku? Perlu perbaiki diri dari usaha; bikin fotonya sebagus mungkin, info selengkap mungkin. Juga gengsi; ga usah malu minta bantu temen promosiin online shop kita! Dan menjemput takdir; melewati segala rintangan dengan sabar.


Sebesar apa niatmu?

Nggak sekali aku ngedenger "Fira aku juga pengen deh bisa di Internet xxxxxx tapi gimana.." atau "Gimana sih cara mulainya kalau mau xxxxxxx di Internet? aku takut salah.."

Nih ya,

Jangan kebanyakan mikir. Langsung plek aja gitu lakuin. Karena kalau kebanyakan dipikirin, malah nggak jadi-jadi. Sama aja kayak pengen ketemuan sama temen lama. Terus aja diobrolin, tapi nggak ada rencana yang pasti. Nggak jadi-jadi.

Gak diendorse Nike cuma suka aja. Sumber gambar.
Apalagi kalo aku tanya, 'Jadi mau gak nih, xxxxx di Internet?' jawabannya masih: 'Mau sih, tapi..'
Lah, udah. Nggak usah lanjutin. Kalo masih ada 'tapi'-nya, keinginannya belom kuat. Sekalinya dipaksain, begitu nanti kena cobaan sedikit aja maunya menyerah.

Coba liat aku, blogger biasa. Yang segala ditulis, dipost. Nggak mau pake niche-niche-an, asal suka aja. Nggak banyak brand yang lirik buat ajak kerjasama. Tapi sampai sekarang, aku masih tetep nulis. Kenapa?

Balik ke quotes yang tadi dikasih mama-nya kak Pungky, dong. Berbagi.
Ya, meskipun banyak peluang, kerjasama dan tawaran rezeki lainnya, jangan pernah lupa. Kamu ada karena kamu berbagi. Tetaplah berbagi yang bermanfaat buat sesama. Ambil tawaran kerjasama yang bermanfaat bukan cuma buat kamu. Tapi buat pembacamu, pengikutmu, dan orang-orang di sekitarmu.

7 comments:

Aku jarang balas komentar di sini, kalau mau jawaban yang fast response boleh DM ke Instagramku (atau twitter) di @safiranys ya!

COPYRIGHT © 2017 · SAFIRA NYS | THEME BY RUMAH ES