Monday, August 18, 2014

Let's Spell Happy!

Hari ulangtahun, bukan berarti selalu mendapat hadiah dalam bentuk fisik. Saya percaya tuhan selalu memberikan apa yang saya butuhkan, bukan yang saya inginkan. Pagi setelah bangun tidur, ketika sedang tidak enak hati dan bingung akan mengerjakan apa, kemudian saya tiba-tiba dapat sebuah kado. Yang sangat membuat saya bahagia. Bahagia sekali.



Suara emas khas miik teman saya, Nurul, yang juga akrab dipanggil Mamih, adalah hadiah yang paling hebat yang saya terima hari itu. Moodbooster, yang memberi tahu bahwa saya se-spesial itu di mata beliau, yang mana merelakan pagi-pagi buta merekam suaranya hanya untuk bernyanyi. Untuk saya. Terkadang memang bingung, kami bahkan belum pernah bertemu lama, sekali. Namun, saya teringat perkataan dek Beby, 
Saya jadi terpikir. Kami jadi seperti saling mengagumi. Walaupun memang tidak selalu ada untuk satu sama lain, kami selalu saling mendukung. Kami tahu, tanpa kami saling memberitahu. Kami mengerti. Setiap hal yang akan kami lakukan, kami akan membayangkan bagaimana asyiknya kalau kami lakukan bersama. Lama, sekali. Kami belum pernah berjumpa lagi.

Tapi sekali lagi saya yakin, Tuhan akan mempertemukan kami di waktu yang tepat.

15 Agustus 2014,
Satu tempat yang selalu saya ingin kunjungi dan membuat penasaran tiada tara. Festival Citylink, suatu mall yang ada di kawasan Bandung (yang tidak termasuk wilayah kota yang biasa di perbincangkan), kakak saya mengajak saya pergi ke sana. Sebenarnya saya malas pergi dan hanya akan bermalasan di rumahnya. Tapi kemudian karena satu dan lain hal, saya akhirnya ikut pergi.

First impression:
Seperti fusion dari PVJ x TSM x Ciwalk x ITC.

Sayang sekali saya tidak sempat mengambil foto karena, ya saya hanya numpang bermain dan, asyik mengobrol. Toko-toko yang ada di sana, entah kenapa membuat saya ingat PVJ. Bukan karena desainnya, tapi karena harganya. Toko dan restoran yang berderet itu tidak semuanya sama dengan yang ada di PVJ, ada beberapa yang lebih bersahabat dengan saku.

Luas dan jembatan yang menyambungkan lantai dari sebrang ke sebrangnya lagi, mengingatkan saya pada TSM, meskipun sudah dua tahun saya belum pernah mengunjungi TSM lagi. Kemewahannya berbeda, justru disini lah yang menyerupai Ciwalk. Anggun, tapi tetap menyenangkan. Dan parkiran di sini berputar-putar, mengingatkan saya pada gedung parkir ITC.

Oh ya, di mall Festival Citylink ini juga ada hotel, loh. Sudah seperti Jakarta saja ya, di Mall-mall Bandung juga kini banyak menyediakan hotel.

Sumber
Di sana juga kami makan di sebuah restoran Jepang, Tokyo Connection. Saya memesan Salmon steak dan Caramel Crush. Sedangkan kakak-kakak saya yang lain memesan Udon, Katsudon, Green Tea Crush dan Ice Caramel Latte.

Caramel Crush dan Green Tea Crush. Ice Caramel Latte terhalangi. 
 Siapa yang tridak suka Green tea? Green tea atau yang biasa disebut juga 'Ryƍkucha' (tentu saja di sini memakai Teh Hijau Jepang, ini restoran Jepang) memiliki rasas pahit yang khas juga aroma yang tak tertahankan. Di antara keempat minuman yang kami pesan, (Lemon tea tidak difoto karena dianggap biasa) saya memilih Green Tea Crush ini sebagai juara karena rasanya yang tidak begitu pahit dan ketika diminum, wanginya mengisi seluruh mulut. Pocky dan Whipped Cream adalah nilai plus untuk menu Crush yang disediakan di sini, karena saya sendiri sangat menyukainya. Harganya, menurut saya setara dengan penyajian dan rasa yang diberikan.

Salmon Steak
Kita semua tahu bahwa Salmon bukanlah bahan yang mudah didapat dengan segar dan juga harganya relatif mahal. Tidak heran jika segala sesuatu yang berhubungan dengan salmon di hidangan negara kita pun harganya ikut mahal. Sekali lagi, saya tidak kecewa dengan harga di sini yang tergolong agak mahal untuk saya, dengan salmon steak ini. Sausnya sangat cocok sekali dengan tekstur salmon yang lembut. Sangat berbau Jepang dan tidak ada unsur negara lain sama sekali. Saya puas sekali meskipun jujur, memakan satu hidangan ini tidak membuat saya kenyang.

Udon
 Yang saya pikirkan ketika melihat Udon ini: 'Wah, mie-nya besar-besar sekali, mirip cacing.' Tapi ternyata rasanya sungguh luar biasa. Toppingnya banyak, porsinya besar, hingga kakak saya tidak bisa menghabiskannya. Terang saja saya membantunya menghabiskan, toh sayang kan namanya makanan ini kita beli pake uang, masa mau dibuang begitu saja. Yang membuat saya terkesan ini adalah telur rebusnya yang manis, di mana jarang sekali di toko ramen lain yang menyajikan telur rebus manis. Mirip sekali dengan yang ada di gudeg Jogja, sehingga kakak ipar saya berkomentar: 'Kok, Jepang pake ada makanan telor gudeg begini. Jangan-jangan dulu waktu menjajah Indonesia, resepnya diambil.'
Tapi sungguh, kami tidak tahu apa maksud telur tersebut, apakah memang cita rasa Indonesia atau dari Jepangnya memang begitu. Rasanya memang mengejutkan tapi sangat enak.

Katsudon + Sup miso
Kebahagiaan lain untuk saya karena kakak ipar saya tidak suka sup miso. Saya yang menghabiskan. Rumput lautnya enak sekali, juga lebih banyak daripada tahunya. Tahu khas Jepang yang kita kenal dengan sebutan Tofu ini dipotongnya sangat kecil sehingga ditekan dengan lidah saja pecah. Sudah lembut, kecil pula. Mudah sekali dimusnahkan. Jangan seperti tofu ini ya, kalau kalian mau lembut, jangan jadi orang kecil. Nanti jadi tertindas. (?)
Katsudon porsinya banyak, mangkuknya dalam seperti harta karun. Katsunya dibungkus dengan telur, sangat enak.  Saya jdai bingung karena katsu itu digoreng, dan yang membungkusnya adalah telur rebus. Perpaduan rasa yang menarik, tapi kalau dipikir cara membuatnya, bingung juga.

Setelah kami selesai makan, kami diberi selembaran, seperti feedback untuk restoran dan saya yang mengisinya. Isinya rahasia, yang penting rate saya untuk Tokyo Connection ini 4/5. Bintangnya hilang satu karena tidak cocok di saku mahasiswa. Padahal yang sering mencari tongkrongan enak kan kebanyakan mahasiswa, karena setahu saya pekerja kantoran di Bandung yang muda dan gaul tidak sebanyak di Jakarta. Juga karena, penerangan ruangan yang membuat sendu, kurang enak untuk berfoto.



17 Agustus 2014,
Dufan, meet up dengan pacar yang rasa senangnya itu melebihi dapat tiket handshake dengan oshi. Setelah lama tidak menghabiskan waktu bersama karena jarak yang menghalangi, akhirnya kami bertemu. Sebenarnya, itu bukan hanya rencana saya yang ingin pergi ke Jakarta, tetapi juga mengantar Kakak dari Ibu saya yang mengantarkan suaminya ke Bandara. Ya, mengantar-ception.


Hal yang membuat saya senang di dufan, adalah.

Finally, Ice Age!
AKHIRNYA NAIK WAHANA ICE AGE!!
Setelah berkunjung dua kali sebelum kunjungan kemarin yang tidak sempat naik wahana tersebut, akhirnya kami bisa mencoba wahana tersebut. Antriannya sungguh panjang dan lama. Sepanjang kami mengantri berempat, (saya, pacar, kakak dan adik sepupu saya) banyak kejadian lucu. Terlebih karena ada bule dari Arab yang mengantri di depan kami, yang sayangnya tidak sempat kami foto.

Sebenarnya saya sengaja diam dan mengalihkan perhatian yang lain agar tidak memperhatikan kedua bule arab tersebut. Karena saya tahu, siapa lagi yang akan dimintai tolong berkomunikasi verbal dengan orang asing selain saya? Bukan bermaksud tinggi hati, tapi itulah kenyataannya.

Tapi, apa daya. Karena waktu mengantri yang lama, bahkan akhirnya bule tersebut yang menyapa kami duluan, menimpali kami yang hanya berkata 'Yes' karena antriannya maju. Dan, kami pun tidak mengerti. Kenapa, mereka memilih bertanya pada pacar saya? Dan saya menebak-nebak, karena mungkin pacar saya memang memiliki keanehan yang membuat orang lain (yang bahkan nggak kenal pun) tertarik unuk bertanya, ketika melihatnya. Dan, wajah pacar saya itu lucu sekali ketika ditanyai. Berbeda sekali dengan foto di atas.

Bule arab memang tidak begitu jelas inggrisnya, berbeda dengan bule-bule London atau Belanda yang meskipun bicaranya sangat cepat, tapi bisa dimengerti karena logatnya tidak aneh. Bule arab ini bertanya kepada pacar saya, 'Apakah kamu pergi ke sini dari rumah?' dengan bahasa Inggris. Pacar saya hanya berkata 'Hah?' sampai mungkin lima kali, dan saya akhirnya menyerah, membantu dia dengan menerjemahkannya. Sambil memasang wajah polos akhirnya dia berkata 'yes' yang membuat kami semua tertawa.

Sepanjang hari itu kami tertawa dan melakukan segala hal bersama. Dan, pertama kalinya seumur hidup saya naik wahana Kicir-Kicir.


Yang biasanya cuma diam dan menjadi tempat penitipan, akhirnya naik juga. Dan, saya tajut setengah mati. Bukan karena takut ketinggian. Tapi, takut jatuh ngagolosor (Bahasa Indonesianya apa ya?) Karena diputar-putar dan badan saya kecil, sehingga pengaman rasanya longgar walau memang sudah kencang.

Overall, siapa yang tidak suka Dufan? Saya bahagia sekali, terlebih karena bisa bertemu dengan oshi hati. Hangat sekali rasanya, berbincang segala hal yang bahkan tidak terpikirkan bisa dibuat topik pembicaraan, tertawa bersama, mengetawai segala kecerobohan saya bersama, berdiskusi banyak hal. Menatap langit menggelap bersama, dengan senyum yang terlukis di wajah. 

4 comments:

  1. Aduh, jadi pengen ke Tokyo Connection >,<

    ReplyDelete
  2. Ini mah namanya surga dunia. Ngiler mbaakkk aku sungguh ngilerrr :G

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah, segini aja. Kalo liat makanan yg ada di www.ask.fm/dorippu itu baru surga dunia.
      Kapan ke Jepang yaaaaa :'')

      Delete

Aku jarang balas komentar di sini, kalau mau jawaban yang fast response boleh DM ke Instagramku (atau twitter) di @safiranys ya!

COPYRIGHT © 2017 · SAFIRA NYS | THEME BY RUMAH ES